Rabu, 06 Juni 2012

Sepenggal Ceramah Om


Pagi ini, mungkin lebih tepatnya subuh ini, secara tadi masi jam 5 lebih si, lebih setengah jam maksudnya, ada tiga orang cowok, maaf, mungkin lebih tepatnya laki-laki datang ke rumah ini. Ndak mungkin nyari saya tentunya, nyari om saya. Saya ndak tahu sih hubungan mereka apa, tapi saya mengenali salah satu dari mereka, salah satu dari mereka dua hari ini sering main ke rumah, sepertinya sih sedang dalam sebuah kepanitiaan dengan tante saya.  Yang seorang itu sedang sibuk ngeprint sesuatu dan yang dua orang duduk di ruang tamu. Ruang tamu rumah ini tepat di sebelah kamar saya, jadinya saya terdengar, bukan nguping lo, pembicaraan antara dua orang itu dengan om saya.

Ndak tahu si gimana awalnya, kalo ga salah salah satu dari dua orang ini bercerita dia sudah mau nikah, lalu terkesannya si dia masih belum yakin, jadi minta pendapat om.
*ini penilaian hanya berdasarkan nada suara yang terdengar dari kamar saya*

Singkatnya, kurang lebih, kalo ndak salah dengar, om bilang
Sebenarnya sih ndak ada kata ndak siap, semua pasti siap, kalaupun dia ndak siap namun dia tetap melanjutkan niat baiknya untuk menikahi seseorang, nanti setelah nikah, pasti dia siap, karena mau tidak mau, suka tidak suka, tanggungjawabnya sebagai suami lah yang akan membuat dia siap. Jadi ndak ada itu kata ndak siap
Apalagi mas, sudah selesai kan kuliahnya, berarti paling tidak sudah bisa mencari uang sendiri, pasti siap, mas mau nikah sama adek kelasnya ya?

Saya, yang mendengarnya dari dalam kamar, memilih untuk menarik selimut dan tidur lagi. Karena saya masih agak trauma dengan kata atau kalimat nikah, apa adanya dan belum siap tanggungjawabnya. Dan saya akan segera menutup kuping kalo denger tiga kata itu, begitu juga sekarang.

Tapi, saya setuju dengan kalimat om, meski mungkin saya bukan cowok yang sering merasa ndak siap “menikahi” seseorang, yang penting niatnya, untuk menyempurnakan separuh agama, menghasilkan keturunan yang baik dan menghindari fitnah.

Tidak ada komentar: