Selasa, 27 September 2011

Jalanmu bukan jalanku

Tak bisakah Kau lihat diriku
Tak cukupkah Bahasa tubuhku
Katakan padamu Bahwa ku tlah bosan

Tak bisakah Kau baca hatiku
Bahwa diriku tak menginginkanmu lagi
Katakan padamu Bahwa ku tak tahan

Kini ku tak mampu lagi
Tuk ikuti caramu
Hanya buatku sakit hati
Kini ku tak mau lagi
Jalanmu bukan jalanku
Dan kau tlah memilih kau tlah  memilih
Tak mudah bagiku untuk Meninggalkan dirimu
Tapi ku tak tahan lagi
Denganmu oh denganmu

Hari ini, tidak sengaja mendenarkan lagu dari Andra and the backbone ini. Intinya sih tentang orang yang sudah tidak mampu bersama lagi, tidak dijelaskan alasannya, hanya dikisahkan bahwa sekarang mereka sudah tidak sejalan lagi.

Tulisan ini bukan untuk mengkritik, memprotes atau semacamnya, hanya untuk memikirkan beberapa kata dalam liriknya. Ada beberapa hal yang membuat saya berfikir, apa memang ketika seseorang sudah merasa bahwa pasangannya sekarang sudah tidak sejalan dengannya lagi, apa harus langsung ditinggalkan tanpa diberi tahu letak perbedaan jalannya?

Hanya sebuah pemikiran dari sebuah cerita. Ketika seseorang sudah merasa tidak sejalan lagi. Saya setuju jika kejadian itu memang ada, maka langkah yan diambil adalah mengambil jalan sendiri-sendiri, ini jalanmu dan itu jalanku. Tapi, bukankah kita pernah berjalan bersama? Apa tidak lebih baik jika sesuatu juga dibicarakan bersama?

Di lirik lagu ini dikisahkan bahwa ketika seorang sudah merasa berbeda jalan, dia ingin pasangannya mengetahuinya dari perbedaan sikap dan bahasa tubuhnya. Tapi apa semua orang bisa mengartikan sendiri perubahan sikap dan bahasa tubuh itu?
Tak semua orang akan bisa menyimpulkan arti perubahan itu, menurut saya.
Tiap orang pasti akan merasakan bila pasangannya mengalami perubahan sikap, tapi apa iya bisa menyimpulkan artinya?
Misalnya ketika pasangan kita, sebut saja soul berubah menjadi seorang yang lebih cuek dari sebelumnya. Mungkin maksudnya adalah memang karena soul sudah bosan dengan pasangannya, sebut saja mate, sehingga dia sudah tidak mau perhatian dan semakin cuek, tapi apa mate bisa  menyimpulkan maksud perubahan itu? Jika mate hanya mengira jika perubahan itu karena soul  ingin mengurangi rasa manja mate padanya, bukankah berarti mate hanya akan menyakiti dirinya sendiri?
Di kehidupan nyata, mungkin banyak yang yang berfikiran deperti mate ini, dan akhirnya menjudge si soul jika dia bukan orang baik.
Begitu juga untuk bahasa tubuh, jika suatu saat soul memberikan bahasa tubuh yang kurang menyenangkan kepada mate, dengan tujuan karena mate, menurut soul sudah tidak sejalan lagi dengannya, tanpa dibicarakan, apa mate bisa menangkap maksud soul? Bisa saja mate justru mengira jika soul seperti itu karena soul butuh waktu untuk sendiri tanpa adanya mate, dan jika waktu itu sudah cukup, soul akan kembali ke mate. Tapi jika mate berfikiran seperti itu, sekali lagi, itu hanya akan menyakiti mate.

Jika semua permasalahan bisa dibicarakan dengan baik, kenapa harus dibaca lewat perubahan tingkah laku atau bahasa tubuh? Tak semua orang bisa mengartikan perubahan itu dengan baik.

Selebihnya, tulisan ini sama sekali tidak berhubungan dengan lagu diatas. Hanya pemikiran yang terlintas ketika ada yang ingin memutuskan kebersamaan perjalanan hanya dengan perubahan tingkah laku dan bahasa tubuh.

Jumat, 23 September 2011

Merasa yang Pernah Kurasa

Bahagia di saat teman berduka memang tidak baik adanya. Tapi entahlah, sekarang saya sedang merasakan dan sedikit menikmatinya. Melihat seorang yang berduka, mungkin yang terbesit dalam pikiran adalah menghiburnya, namun, jika yang sedang terluka itu adalah orang yang pernah melukai kita, apakah akan tetap kita menghiburnya?

Mungkin untuk seorang yang sangat baik hatinya, jawabnya adalah iya! Tapi saya mungkin tidak termasuk dalam golongan orang yang sangat baik itu, meskipun saya meninginkannya.

Beberapa waktu yang lalu, saya terluka, bahkan tidak cepat saya bisa merecovery luka itu. Beberapa cara sudah saya coba untuk bisa menyegerakan proses recovery ini, tapi ternyata tidak mudah, dan sekarang, jika mau dirasakan, luka itu masih terasa sakitnya, tapi saya coba untuk mengacuhkannya.

Saat itu, ada sesuatu yang datang pada saya, membuat saya merasa tenang dan nyaman, menambah semangat dan senyum di hari saya, dan keindahan dalam hidup saya tentunya. Namun sesuatu itu tak berlangsung lama, dengan alasan yang masih saya cari sampai sekarang, sesuatu itu menjadi tiada.
Sakit? Tak usah diragukan lagi
Kehilangan? Pasti
Tetap sabar dan tersenyum? Sulit, tapi akan tetap saya usahakan.
Sesuatu yang mungkin lebih tepatnya seseorang yang menyakiti itu meninggalkan luka yang masih terasa perihnya sampai saat ini. Sebenarnya, jika diperbolehkan, ingin saya mendoakannya untuk merasakan apa yang saya rasakan, merasakan sakit ini, merasakan bahwa yang dia lakukan hanyalah menyakiti orang lain, tapi saya tak kuasa untuk itu. Teringat kalimat teman saya, jika memang kamu merasa disakiti atau dianiaya, lebih baik kamu berdoa saja, doa orang teraniaya lebih cepat terkabul, jadi berdoa saja untuk kebaikanmu, dan jika boleh, doakan aku juga ya!. Kalimat sederhana yan mampu menghilankan rasa dendam yang ada dalam hatiku tadi. Baiklah, Allah tahu mana yang terbaik untuk hambaNya, termasuk untukku. Dan jika memang yang terbaik adalah dengan sakit ini, biarlah saya merasakan sakit ini. Saya hanya berharap semoga seseorang itu menyadari bahwa yang dia lakukan adalah tidak baik adanya dan semoga tidak ada ”saya” lagi setelah saya.
Sepertinya, harapan saya terjadi. Jika saya tidak salah informasi, seseorang itu kini telah merasakan apa yang saya rasakan. Luka yang sama, mengenai tempat yang sama pula. Dan sekarang, saya menjadi dilema, apakah harus bahagia atau membantunya untuk menghilangkan dukanya.

Jujur, saya merasa bahagia, tapi saya sadar rasa ini harusnya tak ada. Bahagia karena merasa kalau dia sudah merasakan apa yang pernah saya rasakan karenanya, dan mungkin dia akan tidak melakukan kesalahan itu lagi, karena dia telah merasakan bagaimana rasa sakit karena kesalahan itu. Bahagia karena Allah mendengarkan harapan saya. Tapi, entah karena apa, saya merasa, saya tidak pantas untuk bahagia. Allah memilihkan jalan ini untuk saya, jalan dimana mungkin saya harus merasakan disakiti oleh orang lain, dan sekarang orang itu merasakan apa yang saya rasakan, apa pantas saya bahagia untuk itu? Padahal saya tahu perihnya sakit itu. Saya yakin Allah juga punya rencana indah untuk orang itu. Tapi, apa harus saya juga ikut menhiburnya?
Dari lubuk hati terdalam saya ingin melakukannya, tapi lagi, saya trauma, saya takut ketika saya menghiburnya, justru dia menghindari saya, pastinya saya akan kecewa.
Hibur, enggak, hibur, enggak hibur, enggak, hibur?????

Teringat petuah dari seorang dosen, jika kamu disakiti oleh orang, maka maklumilah orang itu, maafkan lalu doakan untuk kebaikannya.

Dan jika mengingat dan mempercayai hukum sebab-akibat, ada gula ada semut, ada asap ada api, maka ada sakit jika pernah menyakiti.
Hah? Kalimat apa itu? Saya tahu itu aneh, tapi intinya saya hanya ingin meyakinkan hati saya sendiri, jika memang dia sakit pasti karena memang dia pantas disakiti atau memang pernah menyakiti. Biarlah dia merasakan sakit sekarang, dan jika memang aku ingin mengiburnya, biar lewat doa saja, doa agar kita bisa segera melupakan sakitnya dan agar kita bisa selalu memperbaiki lagi hidupnya. Kita, iya, saya dan dia, karena memang saya juga pernah mengalaminya.

Karena itu barangsiapa yang mengerjakan kebaikan meski seberat debu, dia pasti akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan meski seberat atom pun, dia pasti akan melihat (balasan) nya pula” (Q.S.99: 7 & 8). 

Kamis, 15 September 2011

Life Must Go On

tulisan ini hanya beberapa kalimat yang menceritakan perasaan saya sekarang, akhir-akhir ini tepatnya.

Saya, sejak tanggal 12 lalu, menjadi salah seorang dari 15 orang beruntung yang memiliki ksempatan untuk belajar dan berusaha bersama untuk mendapatkan gelar master. Ada disini sebenarnya bukan mutlak keputusan saya, jika dipersenkan, mungkin 55% keinginan orang tua saya dan 45% keinginan saya. Mungkin saya juga masih mengambil presentase yg besar, karena saya juga lah yang menentukan master apa yang saya inginkan dan dimana saya ingin meraihnya.

Tapi jujur dari lubuk hati paling dalam, saya tidak 100% menginginkan ini.

Mungkin banyak orang yang menginginkan posisi saya sekarang, tapi justru saya yang mendapatkan posisi ini ingin melepasnya. Mungkin memang saya kurang bersyukur. Astagfiruloh, ya Allah, ampuni aku.

Bukan saya tidak bersyukur, saya hanya sedang butuh tambahan semangat dan keyakinan yang bisa membuat saya bisa benar-benar percaya diri untuk melangkahkan kaki di jalan ini.

3bulan yang lalu, saya masih menikmati pekerjaan saya, menikmati uang yang saya dapatkan dengan jerih parah saya sendiri, menikmati hidup sebagai seorang karyawan. Meneruskan pendidikan master memang ada dalam pikiran saya. Pertama karena orang tua saya menginginkannya, dan sebagai anak yang masih mempunyai kewajiban untuk berbakti dan menyenangkan orangtua, saya merasa harus melaksanakan keinginan orang tua saya, toh juga keinginan ini positif. Tapi, sama sekali tak terpikirkan jika akan secepat ini. Sekali lagi, saya masih menikmati hidup saya sebagai seorang karyawan. Kedua, karena memang saya merasa butuh kemampuan master, karena terselip keinginan untuk menjadi seperti orang tua saya, dosen, dan untuk itu, akan lebih baik jika telah memiliki gelar master. Ketiga, karena jika hanya menjadi sarjana di bidang saya, saya merasa lapangan kerja masih minim. Setahun berkelana, yang saya dapatkan jika dunia lebih membutuhkan diploma atau sarjana kesehatan yang lain. Tapi sekali lagi, pekerjaan saya saat itu, sudah membuat saya nyaman dan tak memikirkan saya akan menempuh master dalan waktu secepat ini.

Saat itu, seorang teman mengajak saya untuk melanjutkan master, hampir bersamaan dengan orang tua saya yang menanyakan kapan saya melanjutkan master. Untuk itu, sambil refreshing, (refreshing di kampus, hanya orang-orang aneh yang menganggap ini refreshing), saya mencari informasi tentang program master ini. Sebenarnya, ketika itu, pendaftaran resmi program ini sudah ditutup, tetapi karena ada pengunduran jadwal, akhirnya pendaftaran masih dibuka sampai seminggu setelah saya menanyakan info itu.
Ya, waktu saya untuk memenuhi semua syaratnya hanya seminggu, meski ada beberapa syarat yang boleh menyusul.
Legalisir ijazah dan transkrip, foto dan beberapa syarat lain, sudah ada. Selanjutnya, surat rekomendasi dari dosen yang minimal memiliki golongan 4. Umumnya, beberapa calon mahasiswa akan mengejar dosen yang dulu membimbingnya pada tugas akhir atau bahkan sekjur atau kajur mereka, tapi saya, dengan santainya menggunakan rekomendasi dari ayah dan ibu saya yang kebetulan juga dosen golongan 4, meski orangtua saya memiliki latarbelakang bidang yang berbeda dengan saya.
Dan inilah yang membuat saya merasa saya termasuk orang beruntung, karena saya, termasuk dalam 15 orang dari 19orang pendaftar yang diterima di program ini. Tapi menjadi beruntung tak semata-mata membuat saya merasa saya memang pantas disini. Karena saya masih merasakan nyaman dengan status karyawan, bukan mahasiswa.

Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.
Ayat Al Qur'an ini cukup memotivasi dan meyakinkan saya bahwa yang terbaik bagi saya memang ada disini. Tapi tetap saja, ada sesuatu, yang mengganjal dalam hati saya, yang membuat saya ingin pergi dari sini. Saya tahu itu mungkin hanya kemungkinan kecil. Tapi sekecil apapun, masih saja kemungkinan itu bisa terjadi. Dan saya tak ingin kemungkinan itu terjadi, hingga saya masih merasa iingin kabur dari sini.

But, life must go on, saya harus memikirkan dan merencanakan apa yang harus saya lakukan sekarang dan besok. Tidak hanya berkutat dengan pertanyaan mengapa saya ada disini saat ini. Pertanyaan itu, sampai saat ini masih berputar dalam pikiran saya. Saya tahu jawabannya, yaitu karena ini jalan yang terbaik bagi saya, tapi saya masih butuh extra semangat untuk meyakinkan saya dengan jawaban itu.
Life must go on!
Tapi rasanya saya tak ingin go lewat jalan ini.
Ya Allah, sama sekali tak pernah terfikir untukku untuk tak bersyukur dengan jalanMu ini, aku hanya ingin aku benar-benar bisa meyakini ini yang terbaik Ya Allah.

Senin, 12 September 2011

Open and Share

Hari ini, entah ada angin apa, perasaanku sih gag ada angin, bahkan malang tak terasa dingin seperti biasanya, tapi tiba-tiba ada sebuah email yang membuatku lega dan bahagia.
*terus apa hubungannya sama angin ya? Yasudah, karena sudah terlanjur ditulis, bisa dilupakan sajalah masalah angin itu.

Email itu dateng dari seorang yang dulu pernah jadi orang terdekat, sekarang juga masih dekat, meski ga sedekat dulu.
Dia, dengan hembusan angin-anginanya, mengirimkan email yang menceritakan apa yang dirasakannya, dulu hingga saat ini.
Sejak saat itu, memang ada yang berubah darinya, selain semakin menjauh tentunya. Ada sesuatu yang membuatku merasa ada batas antara kita. Batas yang membuat kita seolah semakin tak mengerti satu sama lain. Dan karena email itu, batas itu kini seolah jadi tiada.

Yah, disini sebenarnya saya ingin menekankan tentang keterbukaan, karena dengan terbuka, kita jadi tahu apa yang kita rasa. Eits, terbuka disini maksudnya adalah terbuka dalam hal perasaan, sesuatu yang kita rasakan.
Memang, terkadang kita sulit untuk terbuka kepada orang, apalagi langsung via lisan, tapi selama kita yakin dan mau mencoba, pasti akan terasa mudah. Kalau mungkin masih belum mampu via lisan, lewat tulisan juga tidak apa-apa kok. Kan yang penting niatnya, dan kelegaan setelah mengutarakannya.

Saya masih memegang pemikiran kalau tidak semua orang memiliki bakat peramal, begitu juga saya. Meski dengan merasakan perubahan sikap dan sifat seseorang kita mampu memikirkan tentang maksud hati dari orang itu, namun, tak selamanya pemikiran itu benar adanya. Untuk itu, keterbukaan adalah kuncinya. Menurut saya, Saya tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi atau apa yang kamu rasakan bila kamu tidak mengatakannya. Jadi, tetap, sampai kapanpun, saya sangat amat menghormati keterbukaan.

Seorang yang mampu terbuka, pasti akan merasakan kelegaan. Lega karena dia mampu mengutarakan apa yang dia rasakan sehingga dia juga tak perlu takut apabila suatu saat ada salahpaham yang mungkin tercipta. Kalo ga percaya, coba deh!:)
Orang bisa dengan gampangnya menilai orang lain, tak jarang penilaiannya itu negatif, meski juga banyak yang menilai positif. Tapi saya akui, menilai positif sesorang itu sulit. Bukan mengajari untuk suudzon, tapi tanpa disadari kadang kita bisa dengan mudahnya memikirkan kurang baik ttg orang, misalnya, ketika ada seseorang yang lebih suka berjalan daripada naek motor, kita mungkin berfikir kok ada gitu, jaman serba modern gini masih doyan jalan kaki, motor banyak, buang-buang waktu, cari capek aja. Itu bukan negatif sih, tapikan bukan positif juga. Padahal kita tahu, dengan jalan kaki, selain juga untuk olahraga, juga bisa untuk mengurangi pemanasan global, ya meski mungkin nanti capek sih, cuma kalau sudah terbiasa juga capeknya ndak kerasa kok!:)
Jadi, tak semua pemikiran kita itu benar adanya. Untuk itu, perlu adanya keterbukaan.

Selain membuat lega, terbuka juga bisa meluruskan pemikiran-pemikiran orang yang mungkin tidak benar adanya. Seperti pejalan kaki tadi. Kalo pemikiran kita dia hanya membuang waktu dan cari capek, jika ada keterbukaan dari pejalan kaki itu, kita akhirnya tahu apa sebenarnya alasan dia berjalan kaki. Entah sesuai dengan pemikiran kita atau mungkin sebaliknya. Jadi, saran saya, serumit apapun yang kita rasakan lebih baik terbukalah, tapi tetap ingat, segala sesuatu yang terlalu itu tak baik adanya, terbukalah tapi juga jangan terlalu terbuka, karena kadang terselip aib yang tidak perlu diketahui orang lain!:)
Toh kebebasan mengeluarkan pendapat juga diatur oleh undang-undang. So, jangan takut dan khawatir untuk terbuka ya!:)

Sabtu, 10 September 2011

I Just Wanna Say Thank You

Sahabat, seorang yang tak meninggalkan kita saat kita berduka atau terpuruk.

Definisi simple dari sahabat, menurut beberapa orang. Kebanyakan orang mungkin menganggap sahabat sejati adalah orang yang masih ada di dekat kita saat kita menangis, saat kita bersedih. Bahkan tak jarang bagi kita mengatakan bahwa seseorang bukan sahabat kita hanya karena dia tidak ada saat kita butuh, tapi, pernahkah kita memikirkan dia saat kita senang? Ingatkah kita pada sahabat kita itu saat kita tertawa?
Pantaskah kita juga disebut sahabat untuknya? Sadarkah kita kalau dia juga ingin membagi kesedihannya dengan kita? Ingatkah kita untuk mengajaknya tertawa?
Sahabat, tak hanya seorang ang selalu ada untuk kita, tapi adalah orang yang bisa saling membagi dengan kita, suka maupun duka.
Jika seorang mau mendengarkanmu di saat dukamu, jangan pernah melupakannya di saat sukamu. Dan jika dia menunjukkan kesedihannya, jangan pernah meninggalkannya karena keegoisanmu.

Aaarggggh,,,,,
Nulis apa seh saya ini, mulai geje!
Sebenernya saya ingin menulis ucapan terima kasih kepada semua sahabat saya, yang mau tertawa sama saya, tapi juga bersedia menemani saat saya meneteskan air mata.
Sahabat-sahabat saya, yang lumayan banyak jumlahnya, pastinya, mereka baik pada saya, terimakasih untuk tiap waktu yang kalian mau bagikan dengan saya, terimakasih untuk setiap perhatian yang ada untuk saya dan terimakasih untuk semua semangat yang kalian salurkan kepada saya.
Dan kalau melli goeslow punya lagu I just wanna say I love you, maka saya juga ingin membuat tulisan tentang, I just wanna say thank you, for all u best friend!
Terimakasih, matur suwun, thank you, arigato

Saya bukan orang yang sempurna, tapi keberadaan kalian membuat saya merasa sempurna
Saya bukan orang yang baik, tapi kalian membuat saya menjadi lebih baik
Saya memiliki banyak kekurangan, tapi kalian mampu mengubah kekurangan itu jadi kelebihan
Saya memiliki banyak kesalahan, tapi kalian mampu memaafkan dan mengajarkan saya untuk memperbaiki diri
Kalian mampu membuat saya tertawa, saat saya sedang terluka
Kalian selalu ada untuk berbagi suka
Kalian mampu mengingatkan, ketika sesuatu telah menjadi berlebihan
Kalian, orang yang sangat berarti dalam hidup saya, yang mampu mengingatkan dan mengajarkan nilai kehidupan
Sekali lagi, terimakasih telah datang di hidup saya, telah mewarnainya dan membuatnya sempurna


Dan maafkan,,,,
Ketika saya terlalu memaksakan
Ketika saya terlalu kekanak-kanakan
Ketika saya meninggikan keegoisan
Dan ketika saya tak merasakan
Rasa sayang kalian

Maafkan pula,
Jika saya pernah melewatkan kesedihan kalian
Dan tak mampu untuk merasakannya

Persahabatan bukan hanya sekedar berbagi duka, tetapi juga berbagi cerita. Kau ada untukku dan aku juga tak boleh pergi meninggalkanmu. Saling menerima kekurangan dan memperbaiki kesalahan. Semua tak selalu indah dan bahagia, konflik, emosi dan semua yang tak baik mungkin terjadi.
Namun kita mampu lewatinya, nersama, saling menguatkan.

Sekali lagi (perasaan sudah berkali-kali), tak ada kata indah yang mampu melukiskan kebahagiaan ini. Karena ada kalian di sisi.
Terima kasih untuk semuanya
Marilah kita tetap bersama
Berusaha menjadi insane yang sempurna
Dan jika memang tak ada yang sempurna
Biarlah kita tetap berusaha menjadi sempurna
Dari pandangan kita



Minggu, 04 September 2011

Datang dan Pergi

Aku tahu untuk datang dan pergi ke suatu tempat, termasuk ke kehidupan orang lain adalah sebuah hak. Yang berarti kita bisa seenaknya, tidak harus untuk datang tapi juga boleh pergi kapan saja. Tapi bukannya hak orang, bahkan hak asasi seseorang itu juga harus memperhatikan hak orang lain ya?
Memangnya saat kamu  dateng ke kehidupan seseorang, kamu bisa gitu seenaknya pergi dari kehidupan orang itu?
Ok, kamu punya hak untuk itu, tapi bukannya kamu juga punya hati ya? Apa kamu nggak ngerasain apa yang akan dirasain orang itu kalau dengan gampangnya dateng dan pergi dari hidupnya?

Saat seseorang datang ke kehidupan kita, baik dengan niatan baik atau jahat sekalipun, pasti kita akan memberikan respon untuknya. Sedikit mengaitkan kejadian datang dan pergi seseorang dalam hidup kita dengan sistem kekebalan tubuh kita. Saat antigen atau bahan asing yang masuk ke tubuh kita, sistem kekebalam tubuh kita sudah memiliki mekanisme yang akan merespon antigen atau bahan asing itu, bila antigen atau bahan asing itu dikenali sebagai kawan, maka dia akan masuk ke tubuh dengan baik, tapi bila antigen atau bahan asing itu dikenali sebagai lawan, maka sistem kekebalan kita akan berusaha dengan kerasnya hingga antigen atau bahan asing tidak menyebabkan infeksi atau penyakit bagi tubuh kita.
Tapi apa perasaan seseorang mampu melakukan mekanisme seperti sistem kekebalan kita?
Sistem kekebalan yang dimiliki manusia ada dua, sistem kekebalan alami dan adaptif/didapat. Sistem kekebalan alami akan memproses semua jenis antigen atau bahan asing, dia tidak bisa spesifik dan tidak punya memori terhadap antigen atau bahan asing yang pernah dia proses. Berbeda dengan sistem kekebalan adaptif/didapat, dia spesifik terhadap 1jenis antigen atau bahan asing dan punya kemampuan memori atau mengingat antigen atau bahan asing yang pernah dia proses. Jadi, jika sekarang ada antigen atau bahan asing yan masuk, kemudian diproses oleh sistem kekebalan adaptif/didapat, saat esok antigen atau benda asing itu datan lagi, sistem kekebalan adaptif atau didapat akan langsung mengenalinya dan memprosesnya.

Jika ada orang yang datang dalam kehidupan kita, siapapun dia, baik atau kurang baik, kita anggap mereka sama dan kita memperlakukan mereka dengan sama pula, mungkin kita mengikuti cara kerja sistem kekebalan yang alami.
Tapi apa bisa kita berlaku seperti itu?
Jika yang datang adalah orang yang kurang baik, dan kita tahu itu, apa bisa kita tetep bersikap baik padanya?
Seseorang pernah berkata padaku, seorang bisa saja berubah, mungkin sekarang dia bukan orang baik, tapi apabila kita tetap baik ke dia, mungkin dia akan menjadi baik. Mereka munkin butuh waktu untuk berubah, dan akan lebih baik bila kita memberikan kesempatan itu. Jadi tidak ada salahnya kita tetap berbuat baik padanya, seperti yang disarankan oleh pendahulu kita, bila ada seseorang yang menyakitimu, maka maklumi dia, maafkan dan doakan dia.

Kembali ke masalah datang dan pergi, billa kita mampu menerima semua jenis orang dan tetap memperlakukannya dengan baik, bagaimana jika dia pergi?
Ada banyak jenis orang yang datang dan pergi dalam hidup kita, munkin bisa dikelompokkan menjadi seperti berikut:
§  Jika dia datang dengan baik maka akan pergi dengan baik pula, meski tidak ada yang menginginkan perpisahan, tapi saya yakin, sesakit apapun perpisahan ini, akan ada hikmah dibalik itu. Dia termasuk orang baik dan bila dia benar-benar orang baik, maka dia akan meninggalkan nilai-nilai yang juga baik dalam hidup kita.
§  Jika dia datan dengan niat baik, namun pergi dengan keadaan atau cara yang kurang baik, yang dengan gampangnya menggunakan haknya untuk bisa datang dan pergi sesuka hatinya, maka dia menjadi orang yang kurang baik, tidak menutup kemungkinan kamu yang menyebabkan dia seperti itu.
§  Jika dia datang dengan niat kurang baik namun mampu pergi dengan keadaan atau cara yang baik, berarti sekarang dia adalah orang baik, kamu mampu membuatnya sadar, dan secara tidak langsung kamu telah membagi nilai yang baik padanya.
§  Jika dia datang dengan niat kurang baik dan pergi dengan keadaan atau cara yang kurang baik pula, maka munkin dia meman tipe oran yang kurang baik, berkesempatan ketemu dengan dia tidak merubah apapun dalam hidupnya dan hidupmu.
Bagaimanapun cara seseorang datang dan pergi dari hidup kita, ketika dia datang, ada respon dalam perasaan kita, entah suka atau tidak suka, kita akan menata perasaan kita, hingga akhirnya kita memutuskan apa respon kita padanya. Tak ada yang memaksa kita melakukan itu, namun kita sendiri yang melakukannya. Begitu pula ketika dia pergi, kita juga akan meresponnya.
Bila respon terhadap kedatangannya baik, bisa saja respon terhadap kepergiannya juga baik, tapi jika kepergiannya dengan cara yang kurang baik, menurut saya, kita akan sulit meresponnya. Bila kita merespon baik, hati kita mungkin tak sependapat, karena luka sempat ada di hati. Tapi jika kita merespon kurang baik, hati kita mungkin masih tak sependapat, karena sesuatu yang baik, janggal rasanya bila berakhir dengan kurang baik.
Dan respon untuk kepergian ini, akan terasa lebih berat daripada respon kedatangan.
Lalu, setelah respon kepergian diputuskan dan mampu dilewati dengan baik, bagaimana jika dia datang lagi? Apa untuk kedatangan yang kedua ini respon kita akan sama dengan kedatangan yang pertama?
Jika menganut prinsip sistem kekebalan adaptif/didapat, yang memiliki sistem memory, maka respon akan sama dengan pertama kali datang.
Bagaimana dengan perasaan kita?

Ada yang bilang kepada saya, just let go, yang dulu-dulu diikhlaskan saja, tidak ada guna juga sakit hati, semakin kita memaafkan, hati kita semakin lapang. Saya setuju dengan kalimat ini. Keikhlasan, iya, hanya itu yang mampu melunturkan semua rasa sakit, mampu memaafkan sesuatu yang mungkin sulit untuk dimaafkan, namun, sangat sulit untuk dilakukan. Tidak semua orang mampu ikhlas, tapi bagaimanapun itu, jika kita bisa ikhlas, memang akan ada rasa tenang dalam hati ini! Try it! J

Ada pula yang berkata, dia pernah menyakitiku dengan caranya seperti itu, datang dan peri seenaknya, luka itu belum kering. Tapi aku sudah memaafkannya, hanya tak ingin menerima kedatangannya lagi. Saya sebenarnya tidak begitu paham dengan ini. Kalau memang sudah memaafkan, kenapa tak mau menerima kedatangannya lagi? Atau dia belum benar-benar ikhlas? Aku tak tahu. Tapi jika saya coba merasakan, mungkin bukan karena belum ikhlas, hanya saja dia takut ketika seseorang itu datang lagi ke kehidupannya, hanya untuk membuatnya luka kembali, seperti ketika itu.

Dia, atau siapapun, termasuk saya sendiri, memang berhak untuk datang lagi, tapi mengapa?
Mengapa jika memang dia tetap ingin ada dalam kehidupan ini, mengapa dia harus pergi?
Jangan sebutkan hanya karena tantangan sebagai jawabannya, karena itu pasti menyakitkan.
Jangan sebutkan karena ingin melihat sikapmu yg sebenarnya sebagai jawaban, karena itu bukan caranya
Dan jika jawabanmu adalah karena itu caramu menguji kesetiaannya, maka kau justru akan menyakitinya.
Kau boleh datang, pergi, datang lagi, pergi lagi, begitu seterusnya, sesukamu.
Itu hakmu.
Tapi perlu kau tau
Itu bisa menyakiti
Dan jika kau tahu rasa sakit itu
Kau pasti tak akan mau merasakannya
Hidup adalah pilihan, kita sendiri yang menentukan pilihan itu. Denan menimbang-nimbangnya pastinya. Akan lebih baik, jika pilihan hidup kita berhubungan denan hidup orang lain, kita mampu memilih pilihan yang mampu membuat kita bahagia, tanpa menyakiti orang lain itu. Meskipun setiap orang punya sisi keegoisan sendiri-sendiri, tak ada salahnya jika kita tetap mencoba merasakan apa yang dirasakan orang lain ketika berhadapan dengan kita, sehingga kita mampu untuk berjalan dengan baik, tanpa harus menyakiti orang lain. Jika kita ingin berjalan baik namun tak mau melihat perjalanan orang lain yang mungkin berhubungan dengan perjalanan kita, kita benar-benar orang yang egois.
Tak ada salahnya bicara dengan orang yang ada dalam hidup kita untuk membahas jalan terbaik dalam hidup kita, dan kalaupun nantinya jalan terbaik adalah dengan sedikit menyakitinya, paling tidak, kita sudah mencoba mencari jalan terbaik bersama dia.

Jumat, 02 September 2011

Pilih Mana?

Ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Suatu pertemuan, entah itu yang disengaja ataupun tidak, entah yang bersambung ke pertemuan-pertemuan selanjutnya ataupun tidak, pasti akan berakhir dengan perpisahan. Dan tiap perpisahan, pasti akan meninggalkan kenangan.

Dalam tiap pertemuan, khususnya pertemuan menyenangkan, pasti kita sama sekali tidak ingin adanya perpisahan, bahkan mungkin membayangkan saja kita tak ingin. Tapi, sekali lagi, bagaimanapun indahnya pertemuan, pasti berakhir dengan perpisahan. Dan apa yng akan kau lkkukan bila perpisahan itu datang?

Ketika sebuah pertemuan mengantarkanmu ke sebuah hubungan yang baik dengan seseorang, dan akhirnya orang itu dekat denganmu, lalu tiba-tiba dia pergi darimu, bagaimana perasaanmu?

Ada yang bilang padaku, saat orang "dekat" itu prgi tiba-tiba, akupun akan pergi dan mencari orang lain yang bisa berhubungan baik denganku.
Lalu ku bertanya, apa segampang itu kau bisa melupakan dia?
Dia menjawab, aku tahu itu sulit, tapi aku kan mencoba melakukannya, karena hanya itu pilihannya.

Seorang lain berkata, aku akan memaksanya untuk menemuiku dulu, sebelum akhirnya kita benar-benar berpisah, aku ingin tahu kenapa dia pergi dariku, aku ingin tahu kenapa perpisahan yang memang pasti ada, tapi kan tak perlu dia sendiri yang menciptakannya.
Kemudian aku bertanya, untuk apa? bukannya itu hanya akan menyakitimu? karena mungkin alasannya akan menyakitimu?
Iya, mungkin memang menyakiti, tapi aku yakin, alasannya dia akan membuatku bisa lebih baik, karena ppasti dia meninggalkanku karena sesuatu yg kurang baik dalam diriku.

Jawaban mereka sama-sama logis menurutku. Sangat menyakitkan, saat seseorang yang dulu dekat, tiba-tiba prgi tanpa ada alasan yang kita tahu psti.
Tapi hidup akan tetap berlanjut. akan banyak prtemuan-pertemuan lain yang bisa membuat kita bahagia nantinya. yang akan menambah saudara untuk kita. Dan untuk setiap perpisahan sepihak seperti ini, mana yang akan kalian pilih? atau mungkin kalian memiliki alternatif yang lain?