Minggu, 05 Januari 2014

Tak Dianggap

Tak dianggap itu harusnya biasa
Sudah pernah jadi permen karet
Sudah pernah disatru dan didiemin gitu aja
Sudah pernah dibolak-balikin cerita
Tapi kenapa masih sakit ati? 
Karena masih manusia, jadi punya hati 
*eh? 
Tak dianggap kali ini bener-bener sakit, tapi alhamdulilah jadi tahu bagaimana "asli"nya
Jadi menghayati lagunya pingkan, sebagai seorang yang tak dianggap aku hanya bisa lalala
*lha kok malah nyanyi
Semoga saja masih bisa ikhlas, jadi ndak sia-sia yang pernah dikerjakan 

Kadang suka mikir, apa ya yang salah? Sampai akhirnya ujungnya banyak yang seperti ini. 
Lha kalau nyalahin karena terlalu baik, ya masak iya disuruh jadi orang jahat?
Lha kalau nyalahin karena nggak tegaan, ya masak iya ada kesempatan nolongin dilewatin gitu aja?
Tapi emang sih terlalu itu ndak baik, mungkin lain kali ndak usah terlalu baik kali ya, jadi pas ndak dianggep ndak sakit ati. Atau mungkin ikhlasnya kurang, jadi pas ndak dianggep gini ndak sakit hati. Meskipun sakit ati tanda masih punya hati, tapi tetep aja keseringen sakit hati juga ndak enak, haha

Yasudahlah, kalau memang kemaren-kemaren ndak ada artinya yasudah, bukan kamu kok sepenuhnya penilai. Kalau memang kemaren-kemaren adalah menurutmu justru jalan yang salan, ya sudahlah, bukan kamu juga penentu benar atau salah.
Cahaya itu ada yang cahaya semu, yaitu ketika dia datangnya cuma sekali dua kali, ndak terus menerus.
Terimakasih telah menunjukkan siapa dirimu, terimakasih juga sudah   menghentikanku untuk simpati padamu.

Orang datang dan pergi dalam hidup kita, itu sebuah kepastian. Tapi sebenernya bisa dihindari dengan menjaganya. Kalau sudah berusaha menghindari tapi ndak bisa, mungkin saatnya dia pergi, entah dia kembali atau tidak nantinya, yang jelas dia telah memberi kenangan yang pastinya mempengaruhi pribadimu.


Tidak ada komentar: