Selasa, 26 Maret 2013

Nikah = Semangat ??

Ini tulisan yang mungkin bisa jadi sangat amat sensitif, apalagi untuk perempuan seusia saya yang belum menikah, jadi buat yang sensi, lebih baik jangab baca tulisan ini.
Kalau saya sendiri sih udah lewat masa-masa sensinya, jadi (akhirnya) bisa publish juga tulisan ini

Sore ini, saya bbm-an dengan seorang teman SD saya, lama sih saya ndak berhubungan sama dia, ketemu aja sudah tidak pernah setelah lulusan SD 12 tahun yang lalu, bahkan pas reuni SD kemaren dia juga ndak dateng, beruntungnya sekarang banyak social network yang bisa membuat silaturahmi terajut kembali. Dia, sebut saja mbak tede alias temen SD (maap ya tede harus menyamarkan namamu yang indah jadi geje gini),sebenarnya mengomentari status bbm saya tentang roti yang gagal ngembang, tapi namanya cewek, bbm tentang roti bisa melebar ke mana-mana, padahal saya sudah siap-siap benteng lo biar dia ga melebar, tapi kayaknya sia-sia.
#eh?

Setelah bahas roti, mbak tede ini mulai menanyakan kabar dan tempat tinggal saya yang sekarang, saya bilang aja kalau saya masih kuliah di malang dan sedang menyelesaikan tugas akhir saya. Standar seperti teman-teman yang lain, dia menyemangati saya untuk segera menyelesaikan tugas akhir, dan (masih) standar juga dia mendoakan saya untuk cepet lulus dan cepet nikah
Amiiiiiiiiiin

Sejujurnya saya masih merasa gimana gitu, karena saat saya lulus dan belum ada tanda-tanda akan menikah, pasti orang-orang sekitar, khususnya orang tua saya mulai khawatir, jangankan mereka, saya juga khawatir kok, makanya saya masih belum ingin lulus, tapi saya janji pada diri saya sendiri akan menyelesaikan studi ini 4 semster dan ini semester terakhir. Jadi saya juga harus siap dengan konsekuensinya. Semoga saja semua doa untuk saya itu terkabul, amiiin

Mbak tede ini, ternyata seorang sarjana psikologi, jadi waktu dia mendoakan saya, saya sekalian konsultasi sama dia. Saat itu dia menceritakan kisahnya, bahwa dia juga sempat malas sekali menyelesaikan tugas akhirnya, dan saat itu mantan pacarnya mengajaknya menikah, jadi dia langsung rajin menyelesaikan tugas akhirnya dan akhirnya tugas akhir selesai, dia menikah dengan mantan pacarnya itu (mantan pacar disini maksudnya suami ya :p)
So sweet
Kata mbak tede ini, wajar kok bagi seorang perempuan, saat seorang laki-laki mengajaknya nikah maka perempuan ini akan lebih rajin menyelesaikan kewajibannya.
Ada benernya juga sih, beberapa temen perempuan juga begitu, begitu mereka dapat ijazah langsung deh ijab sah, malah ada yang belum dapat ijazah udah ijab sah dulu. Wajar

Nggak wajarnya itu saat saya tak merasakannya. Mungkin saking biasa dengan keadaan yang tak biasa kali ya, jadi kejadian dan perasaan yang biasa dialami perempuan pada umunya jarang saya rasain.
Kalau saya diajak nikah sama seseorang sekarang, galau deh pastinya
Seperti saat beberapa teman dan kerabat yang menanyakan, sekarang kamu sama siapa? Saya tak bisa menjawabnya, saya sedang menikmati saja keadaan dimana saya tidak sedang mengagumi seseorang atau keadaan dimana saya tidak menantikan seorang imam dalam hidup saya. Bukan tidak mau sih, Cuma sedang tidak ingin, sedang menikmati kesendirian.
Mungkin banyak yang bilang ini ngeles, entah sih, mungkin memang benar ngeles, tapi jujur saya memang belum siap aja buka hati buat orang baru, siapapun itu
#curcol
Jadi tiap ada pertanyaan, sekarang kamu sama siapa? Saya kasih tunjuk aja wallpaper hape saya yang gambarnya Bang Akai dan bilang lagi sama dia, #eh?

Saya masih trauma dengan ajakan nikah, jadi kalau bagi perempuan lain ajakan nikah itu penyemangat, bagi saya mungkin adalah sumber galau, #eaaaaa
Kata Mbak Tede, saya ndak boleh trauma, bisa jadi yang ngajakin saya nikah sedang ada masalah pribadi yang membuatnya tak jadi mewujudkannya, dan kalau bisa saya harus mengerti itu.
Saya ngerti kok Mbak tede, ngerti kalau itu ndak akan terwujud maksudnya
Tapi omongan mbak tede ini ada benarnya, kemungkinanan memang banyak, tapi kebenaran Cuma hanya ada satu, kata shinichi sih gitu.

Menikah itu menurut saya ndak mudah, makanya saya harus benar-benar tepat memilih imam saya. Saya juga tahu mungkin ndak banyak orang yang mau mengimami saya, makanya kalau misalnya sampai saat ini saya masih belum menikah, bukan hanya karna saya terlalu memilih, terlalu egois atau apapun itu. Iya saya memilih, tapi tak semua yang ada saya tolak. Saya hanya tak ingin salah pilih. Saya yakin Allah telah memilihkan seorang yang tepat untuk jadi imam saya, dan saat saya berharap mendapatkan imam yang baik, maka saya juga sedang berusaha menjadi makmum yang baik pula. Itulah yang sedang saya usahakan.
Berusaha merapikan sesuatu yang berantakan kadang tak hanya butuh niat dan waktu, tapi juga butuh pendorong yang mampu menguatkan niatnya.

Kalau kata ibu saya, jodoh itu memang akan datang sendiri, tapi kita juga perlu usaha untuk mencarinya. Kalau saya analogikan mungkin  sama seperti mencari kerja, kerjaan mungkin memang ditakdirkan untuk jadi mata pencarian kita, tapi kalau kita tidak melamar kerja, ndak mungkin juga kan bisa kerja di situ. Bahkan kalaupun itu wiraswasta atau perusahaan warisan keluarga, kalau kita tak ”melamar” maka kita tak akan bisa menjadikannya mata pencarian itu.

Semoga saja doanya mbak tede dan semua teman yang lain agar saya bisa cepat lulus dan cepat nikah dikabulkan, amiiin
Dan akhirnya, saya setuju, kalau salah satu penyemangat adalah ajakan nikah

4 komentar:

Rian Piarna mengatakan...

background blog ini kenapa hitam? bikin mata pembaca sakit :( #syukurlaah tidak bisa baca post ini :)

tapi beneran warna item bikin nggak enak dibaca

dhiyan kisno mengatakan...

wkwkwkwwk
tema bulan ini nyampah, jadi memang cuma niat nulis dan ga niat biar tulisannya dibaca
tapi makasih ya sarannya :)

hettirusmini mengatakan...

postingannya eaaaaaaa... makasih ya jd penyemangat.. mba tede bener bangeett!!! *sungkem*

tapi masalah e yg bikin aku harus semangat selesai adalah... beasiswa cuma nyampe semester 4... nah lo... mau ga mauu harus kelarrr,,,

dhiyan kisno mengatakan...

kadang kenyataan itu nggak sesuai harapan lo
#kompor