Selasa, 27 Mei 2014

Commuter II

Kalau misalnya ndak pengen kena macet saat perjalanan berangkat kerja, alat transportasi yang sangat bisa diandalkan adalah commuter.
Naek commuter pada jam berangkat dan pulang kerja itu lama-lama jadi sebuah seni, dan pastinya punya selalu punya kisah sendiri.
Jangan berharap bisa bergerak bebas kalau misalnya berangkat jam 6 lebih, apalagi di rute bekasi-jakarta kota. Bisa nafas aja sudah alhamdulilah banget. Apalagi bisa keluar di stasiun tengah-tengah.
Tapi manusia pasti lah selalu belajar. Kalau mau turun di stasiun tengah, bukan di stasiun tujuan akhir, maka mereka akan memilih berdiri di dekat pintu dibanding duduk, Itupun kalau misalnya duduk masih ada tempat lho.
Konsekuensinya, saat ada penumpang baru yang memaksa masuk, kudu siap kuda-kuda biar tahan saat terdorong dari depan atau belakang atau dari depan dan belakang.
Saya ndak punya foto sebagaimana penuhnya commuter yang gerak aja susah, ya gimana mau moto wong gerak aja susah, haha. Tapi semacam seperti inilah ya

Sebenernya sih jauh lebih penuh daripada itu, itu setelah beberapa penumpang keluar di stasiun pertengahan. Saran sih, kalau misal hamil atau keadaan badan sedang tidak fit, jangan pernah nyoba naek commuter jam kerja, se-prioritas apapun dirimu, take care yourself lah, saya aja yang sehat sebenernya males naek commuter apalagi yang kebutuhan khusus gitu.

Commuter jabodetabek menyediakan dua gerbong khusus perempuan, gerbong pertama dan terakhir, tapi jangan harap gerbong ini menyediakan kelembutan. Beberapa penapat menyebutkan, saking saa-sama ingin dimengertinya, penumpang gerbong ini males mengerti yang lainnya, bahkan sempet saya ndak dikasih jalan untuk keluar. Lebih enak gerbong campur untuk beberapa situasi memang.

Suka sedih pula sama beberpaa orang yang baru datang di saat kereta udah penuh dan maksain masuk sambil bilang, dorong aja terus, pasti bisa masuk lah.
Aduh mbak, kalau pengen masuk ya dateng pagian lah, toh semua yang didalem juga bisa berangkat lebih pagi darimu.
Apalagi kalau nambah kalimat, sedang buru-buru nih
Woey woey woey, kalau buru-buru kenapa nggak mencoba bangun lebih pagi? atau berangkat kemaren aja? -.-
Klise banget alasannya

Pernah suatu pagi ada yang maksain masuk, dia berhasil masuk, tapi pas di pitu, kegencet lah dia, untung dia bisa segera loncat, meski rok dan sepatunya terjepit pintu. Menurut saya itu keberuntungan, beruntung dia bisa melepas roknya jadi nggak terseret KA, meski dia harus merelakan sepatu kanannya ikut kereta dan dia ketinggalan di stasiun.
Lagian kok ya maksa, masuk sambil ngedorong-dorong gitu tapi nggak dilihat posisi dia dimananya, pas dipintu gitu, ya bahaya mbak.

Setepat-tepatnya formulasi naek commuter, tetep aja kudu berdiri minimal 30 menit, maksimal sejam, perjalanan 20-30 menit, sisanya berdiri sejak kereta dateng di stasiun.
Herannya masih banyak yang bertahan dengan keadaan ini, sepertinya keadaan ini selanjutnya akan jadi sebuah keadaan yang biasa, namanya naek commuter jam kerja ya selalu seperti itu. Kecuali hari sabtuuu
Agak sepian commuternya =D

Tidak ada komentar: